Mukena salah satu alat sholat

Mukena (Kompas.com)”][/caption]

Berawal dari pertanyaan seorang anak kecil bernama Ilma (11 tahun), saat aku menerangkan syarat-syarat sholat diantaranya harus menutup aurat. Aurat laki-laki adalah bla…bla…sedang perempuan adalah bla..bla…Selanjutnya aku menerangkan agar aurat perempuan tidak terlihat maka ketika sholat kita memakai pakaian sholat yang dinamakan  mukena atau rukuh. Tanpa kusangka keteranganku ini membawa dampak pertanyaan yang tidak aku prediksikan sebelumnya.

Dasar, anak cerdas. Pada awal tahapan operasional formal ini anak memang  mulai berpikir secara abstrak,  menuntut  penalaran secara logis dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Ia tidak lagi melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Misalnya mempertanyakan mengapa sholat mesti memakai mukena dan bagaimana sejarah mukena hingga bisa menjadi pakaian sholat.

“Baiklah Ilma, karena waktunya tidak mencukupi lagi, suara adzan isya’ sudah terdengar, maka akan ibu terangkan minggu depan. Okey?” Ilma mengangguk.

Aku berusaha tidak mengecewakan Ilma. Setelah mencari dan bertanya sana-sini tentang sejarah mukena, akhirnya aku dapatkan keterangan seperti ini:

Pemakaian mukena/rukuh saat sholat ternyata hanya ditemukan di kawasan Asia Tenggara utamanya Indonesia dan Malaysia. Kata mukena sendiri sampai saat ini belum diketahui diambil dari bahasa apa. Muslimah dari Negara lain saat sholat, mereka tidak memakai seragam yang dinamakan mukena/rukuh seperti kita. Mereka menggunakan baju rapih, panjang yang menutup tubuh kecuali wajah dan telapak tangan saja.

Umumnya terbertuk bergo atau jubah /abaya. Kalau di Indonesia rukuh/mukena selalu identik dengan warna putih, maka diluar negara-negara Asia Tenggara bisa beraneka warna. Kalau di Timur Tengah kebanyakan memakai abaya berwarna hitam.

Alasan mengapa diciptakan pakaian khusus untuk sholat seperti mukena ini tak lain karena dulu terutama di pulau Jawa hanya berupa kain (jarit) tanpa dijahit dan kemben yang dililit. Tentu saja hal ini tidak memenuhi syarat untuk sholat. Lalu ketika Islam masuk dan disebarkan oleh walisongo diajarkanlah cara berbusana yang benar bagi kaum perempuan.

Setelah terjadi benturan budaya dengan syari’ah maka lahirlah kompromi-kompromi. Kompromi itu diantaranya Walisongo menganjurkan bagi perempuan menggunakan mukena yang sesuai dengan syari’ah di mana hanya wajah dan telapak tangan yang boleh terbuka ketika melakukan sholat. Setelahnya mereka kembali menggunakan busana pada umumnya.

Kini seiring dengan perkembangan zaman, muncul beraneka model dan warna serta bahan. Mulai dari yang sederhana sampai yang mewah dengan harga puluhan juta.

Yang terpenting mukena harus memenuhi syarat-syarat sebagai penutup aurat harus terpenuhi. Tak kalah pentingnya menurut aurat dalam shalat, tidak cukup dengan pakaian ala kadarnya. Namun perlu memperhatikan sisi keindahan dan kebersihannya. Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada dibalik pakaian, tidak dari bahan yang haram dan juga tidak menimbulkan madharat atau bahaya bagi pemakainya.

Idiealnya mukena lebih indah dari pakaian kita sehari-hari. Ingat kita sedang menghadap sang Mahapencipta, dzat yang Mahaindah. Kalau mau menghadiri undangan pesta saja tidak sungkan-sungkan mengeluarkan dana ratusan juta untuk membeli busana pesta, mengapa ketika sholat yang sesungguhnya dengan berhadapan dengan sang kholik memakai pakaian ala kadarnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *